1 tahun disway

Desa Pesanggrahan, Pusat Kota Batu yang Dulu Jadi Tempat Istirahat Petinggi Mataram

Desa Pesanggrahan, Pusat Kota Batu yang Dulu Jadi Tempat Istirahat Petinggi Mataram

Balai Desa Pesanggrahan -Sholeh-Diswaymalang.id

BATU, DISWAYMALANG.ID--Desa Pesanggrahan merupakan pusat Pemerintahan Kota Batu karena berdiri Balai Kota Among Tani di desa tersebut. Di Balai kota Among Tani terdapat seluruh Kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Desa Pesanggrahan terdiri dari enam pedukuhan, yaitu, Krajan sebagai pusat pemerintahannya, Srebet Barat, Srebet Timur, Macari, Toyomerto, dan Wonocari.

Desa Pesanggrahan, menurut beberapa sumber bahwa pada zaman dahulu adalah tempat para petinggi kerajaan Mataram beristirahat.

Debora Sulistyaningsih, dalam Buku "Jejak Nama dan Tempat di Kota Batu" yang diterbitkan oleh Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Pemkot Batu tahun 2022 menyebutkan, konon Raja Mataram bersama selirnya sering mandi di sumber mata air panas Songgoriti dan beristirahat atau "mesanggrah" di tempat yang sekarang orang menyebutnya Desa Pesanggrahan.

BACA JUGA:Balai Desa Tulungrejo Batu Dulunya Vila Milik Pengusaha Es Krim Jerman

"Pesanggrahan berarti sebagai tempat peristirahatan. tempat ini banyak digunakan sebagai tempat peristi-rahatan dari masa Majapahit sampai pendudukan Belanda," tulisnya.

Menurut Debora, pada zaman Belanda daerah ini menjadi loji-loji Belanda. Mereka pun menggunakan tempat ini untuk pelesir dan bersenang-senang. Belanda memang mendisain Batu sebagai daerah tempat peristirahatan. Bukan daerah perkotaan yang sarat dengan aktivitas dan kegiatan perekonomian perdagangan yang ramai. 

"Batu didesain tempat peristirahatan yang tenang dikelilingi daerah perkebunan yang segar dan hijau. Itulah pesona Batu yang menjadi ciri khas sekaligus warna asli daerah Batu," jelasnya.

Bagian dari Desa Pesanggrahan adalah Srebet dibagi menjadi dua yaitu Srebet Barat dan Srebet Timur. Konon nama Srebet itu ada 2 versi. Versi pertama karena "Brebat brebet" artinya bunyi jarit yaitu pakaian tradisional pria wanita pada zaman itu. 

BACA JUGA:Makam Dinger, Jejak Tuan Tanah Belanda di Tulungrejo, Kota Batu

"Jika raja dan para istri dan selirnya datang suara brebat-brebet jarit mereka sangat jelas. Maka penduduk sekitar menamai tempat tersebut dengan nama Srebet," kata Debora.

Versi kedua mengatakan bahwa kedatangan raja dan para istri untuk pelesir selalu membawa bau harum yang semerbak. Para penduduk merasakan "brebat-brebet" bau harum para keluarga kerajaan itu, maka diberilah nama Srebet

Ada juga dusun bernama Toyomarto yang terletak paling tinggi di Desa Pesanggrahan. Dusun tersebut berbatasan dengan hutan. Toyomerto semula benama Seruk dari kata Seru yang kemudian karena dialek setempat menjadi seruk.

Alkisah dahulu Seruk adalah dusun di pinggiran hutan yang lebat. Menurut Debora, sering mereka mendengar raungan yang keras dari dalam hutan (Seru). Para penduduk juga sering menemukan "serutan-serutan" kayu yang dicakari harimau.

Sumber:

Berita Terkait