Analis Sebut Rupiah Terancam Tembus Rp20.000 per Dollar AS Sebulan ke Depan
Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat turut mewanti-wanti bahwa jika tekanan rupiah terus berlanjut dan ekspektasi inflasi mulai bergerak naik, maka ancaman pelebaran defisit fiskal juga akan membuat memperburuk--
JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum berhenti. Kamis, 5 Juni 2026 pukul 12.52 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp18.041 per dolar AS atau melemah sekitar 0,41 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, menurut data Bloomberg. Analis bahkan memprediksi kurs rupiah berpotensi menyentuh level psikologis Rp20.000 per Dollar AS sebulan ke depan.
Analisis tersebut bisa terbukti apabila sentimen negatif yang saat ini mendominasi pasar tidak segera diatasi. Anjloknya nilai rupiah saat ini diprediksi terjadi akibat sentimen negatif pasar yang mendominasi. Akibat berbagai kebijakan pemerintah yang berpotensi membuat pasar ragu untuk melakukan investasi.
BACA JUGA:Terlemah dalam Sejarah! Kurs Rupiah Pagi Ini Jeblok ke Rp18.013 per Dollar AS
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan, situasi yang terjadi saat ini sudah bergeser menjadi murni sentimen pasar (pure sentiment). Menurutnya, pemerintah terkesan terlalu menganggap enteng faktor tekanan eksternal sejak awal, sehingga terlambat dalam mengambil tindakan mitigasi.
"Tekanannya sebenarnya sama saja, kelemahan ini karena pemerintah terlalu menganggap enteng dan agak terlambat bereaksi. Banyak faktor eksternal yang kemudian merembes menjadi masalah internal, ditambah lagi dengan sentimen negatif di pasar ekuitas. Sekarang semuanya bercampur menjadi murni sentimen," ujar Lukman dikutip Harian Disway, Kamis, 4 Juni 2026.
BACA JUGA:Rupiah Tembus Batas Psikologis Rp18.000, Ini Alasan Warga Desa Harus Cemas
Lukman menjelaskan, kondisi saat ini menyerupai bola salju yang menggelinding ke bawah. Rupiah terus merosot tanpa memerlukan adanya tambahan tekanan baru yang besar karena kepanikan pasar sudah bekerja dengan sendirinya.
Investor asing pun dilaporkan terus melakukan aksi jual (sell-off) dan menarik modalnya keluar dari pasar ekuitas maupun obligasi dalam jumlah besar.
Sikap pasar yang meragukan efektivitas kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kian memperparah keadaan. Perubahan regulasi yang dinilai tidak konsisten dan dilakukan secara mendadak dituding menjadi pemicu kaburnya investor.
BACA JUGA:PHRI Sebut Penguatan Dolar Tidak Berdampak Langsung ke Pariwisata di Kota Batu
"Kita berharap pada investor untuk pertumbuhan ekonomi dan stabilitas mata uang, tetapi regulasi kita berubah-ubah. Investor asing merasa dirugikan," kata Lukman.
Jika kondisi dari tiga faktor utama seperti arus keluar modal asing, intervensi BI, dan tensi geopolitik global tidak berubah, rupiah akan terus terperosok. Bahkan Lukman memprediksi, dalam sebulan ke depan, rupiah bisa menyentuh Rp 20.000.
Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa pelemahan mata uang sebenarnya tidak hanya dialami oleh Indonesia. Negara dengan kekuatan ekonomi yang lebih besar seperti Jepang (Yen) dan Korea Selatan (Won) juga terseok-seok menghadapi keperkasaan dolar AS. Namun, yang membedakan adalah kecepatan runtuhnya nilai tukar rupiah yang dinilai mengkhawatirkan akibat faktor internal tersebut.
Sumber:




