1 tahun disway

FKH UB Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Program Adjunct Professor 2026

FKH UB Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Program Adjunct Professor 2026

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Program Adjunct Professor 2026--fkh.ub.ac.id

MALANG, DISWAYMALANG.IDFakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) kembali memperkuat komitmennya dalam memperluas jejaring akademik internasional melalui pelaksanaan Program Adjunct Professor 2026. Program yang menjadi salah satu prioritas rektor di bidang akademik ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan, riset, serta kolaborasi global di lingkungan Universitas Brawijaya.

BACA JUGA:Health Rangers UB Juara #SatSetLawanMisDis Challenge UNICEF Lewat Kampanye Komik Edukasi Imunisasi

Dalam program tersebut, dikutip dari laman resmi FKH UB, Selasa (12/5/2026), dihadirkan Prof Dr Mohammad Noor Amal Azmai dari Universiti Putra Malaysia (UPM) sebagai dosen tamu internasional. Prof Amal dikenal sebagai pakar di bidang kesehatan ikan, imunologi akuatik, serta pengembangan vaksin untuk akuakultur tropis yang telah aktif melakukan berbagai penelitian terkait penyakit pada budidaya perikanan.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peserta dari berbagai latar belakang akademik yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan hewan akuatik dan akuakultur. Kehadiran akademisi internasional dalam program ini menjadi bagian dari upaya FKH UB untuk menghadirkan perspektif global dalam proses pembelajaran dan pengembangan penelitian.

BACA JUGA:UNISMA Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Total Profesor Kini Capai 27 Orang

Dalam sesi pertama yang berlangsung pada Rabu (29/4/2026), Prof Amal menyampaikan materi berjudul “Group B Streptococcus in Aquaculture and Its Threats to Humans”. Materi tersebut membahas soal ancaman bakteri Group B Streptococcus dalam sektor akuakultur yang tidak hanya berdampak pada kesehatan ikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko zoonosis bagi manusia.

Peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengawasan kesehatan ikan, biosekuriti, serta langkah pencegahan penyakit dalam sistem budidaya perikanan modern.

Sementara itu, pada sesi kedua yang digelar Jumat (7/5/2026), Prof Amal membawakan topik “Challenges and Opportunities in Vaccine Development for Aquaculture: Experiences from Malaysia”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai tantangan pengembangan vaksin di sektor akuakultur, mulai dari karakteristik patogen, efektivitas vaksin, hingga penerapan teknologi dalam industri budidaya ikan.

Selain itu, ia juga membagikan pengalaman Malaysia dalam mengembangkan inovasi vaksin untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan sektor perikanan.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan wawasan ilmiah terbaru, tetapi juga kesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan akademisi internasional mengenai perkembangan riset kesehatan ikan dan akuakultur di kawasan Asia Tenggara. Interaksi tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah bersama, hingga pertukaran akademik di masa mendatang.

BACA JUGA:FIA Unisma Perkuat Pendidikan Administrasi Berbasis Digital dan Nilai Islami, PMB 2026/2027 Resmi Dibuka

FKH UB menilai Program Adjunct Professor 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat atmosfer akademik berstandar internasional sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang kedokteran hewan dan kesehatan akuatik. Program ini juga sejalan dengan upaya Universitas Brawijaya dalam mendukung internasionalisasi kampus dan pengembangan inovasi riset yang berkontribusi bagi masyarakat global.

Ke depan, FKH UB berharap kerja sama internasional semacam ini dapat terus berkembang melalui berbagai kegiatan akademik lainnya, termasuk seminar, riset kolaboratif, dan pengembangan teknologi kesehatan hewan yang berkelanjutan.

BACA JUGA:‎Pakar Ekonomi UB Dorong Mahasiswa Lebih Berani Eksekusi Investasi

Sumber: fkh.ub.ac.id