1 tahun disway

Hantavirus Berkembang Jadi Teror di Medsos! Pakar IDAI: Tidak Perlu Panik Berlebihan

Hantavirus Berkembang Jadi Teror di Medsos! Pakar IDAI: Tidak Perlu Panik Berlebihan

Ilustrasi Hanta Virus--disway news network

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID -Informasi masif seputar virus yang dikenal dengan nama Hantavirus, akhir-akhir ini, berkembang menjadi semacam teror di media sosial. Antara lain, karena visualisasi atau narasi yang beredar di media sosial memang tampak sangat mengintimidasi.

Hal itu pun menjadi perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Prof. dr. dr. Dominicus Husada, anggota UKK Infeksi & Penyakit Tropis IDAI, menekankan bahwa secara medis, situasi lapangan tidak semencekam yang dibayangkan banyak orang.

​"Menurut saya, gambar-gambar yang muncul di media sosial dalam satu-dua hari ini terlalu menakutkan ya. Kita tidak setakut itulah dengan Hanta ini," ujar Prof. Dominicus dalam sebuah sesi diskusi daring, Jumat (8/5)

Menurut dia,  kasus Hantavirus bukan hal yang baru dalam dunia medis. Virus ini sudah lama diidentifikasi dan dipelajari oleh para ilmuwan.

Berbeda dengan virus yang sering bermutasi secara liar, Hantavirus memiliki karakteristik yang sudah dipetakan dengan baik, terutama keterkaitannya dengan hewan pengerat atau tikus.

Meski meminta publik tenang, Prof. Dominicus tidak serta-merta menganjurkan sikap abai. Istilah jangan lengah menjadi garis bawah yang tebal. Risiko utama memang terletak pada keganasan virus ini saat menyerang organ vital seperti paru-paru pada varian di Amerika atau ginjal pada varian di Asia dan Eropa.

​"Sakitnya memang bisa berat, tapi kasusnya jarang. Kuncinya bukan pada rasa takut, melainkan pada kebersihan lingkungan," tuturnya.

BACA JUGA:Hantavirus Menular dari Tikus, WHO Lacak Penumpang Pesawat terkait Kematian Pasien Terinfeksi

BACA JUGA:Waspada Ancaman Fatal Hantavirus dan Pentingnya Menjaga Kebersihan Lingkungan

Publik juga diingatkan untuk tidak sembarangan menyapu area yang terdapat kotoran tikus. Penggunaan disinfektan jauh lebih disarankan agar partikel virus mati dan tidak terbang terhirup ke paru-paru.

​"Intinya, kita sudah kenal virus ini cukup lama. Selama kita menjaga jarak dengan habitat tikus dan menjaga kebersihan, risikonya bisa ditekan seminimal mungkin," pungkas Prof. Dominicus

Sumber: disway news network