Hendrix Santoso: Merawat 'rasa' di Tengah Gempuran Algoritma
Hendrix Santoso saat di sodio mininya tempat dia berkreasi-panca rp-
KOTA BATU, DISWAYMALANG.ID–Pada era musik bisa diciptakan hanya dengan sekali klik melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), seorang musisi senior asal Kota Batu, Hendrix Santoso, memilih jalan yang berbeda. Baginya, sebuah karya musik bukan sekadar susunan nada yang matematis, namun sebuah manifestasi dari "rasa" dan pengalaman yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin.
Hendrix Santoso bukanlah nama baru di belantika musik Jawa Timur. Mengawali karier profesionalnya sejak 1995 sebagai gitaris senior Kota Batu, Hendrix mulai merambah dunia produksi musik pada tahun 2010.
Setelah sempat menimba ilmu dan pengalaman di bawah naungan Smidi Record Surabaya, ia telah menangani berbagai klien korporat besar. Mulai perusahaan pembiayaan seperti FIF, hingga brand industri manufaktur seperti Cat Mawar dan Raja Cat.
Meski sempat terjun ke dunia otomotif, panggilan jiwa membawanya kembali ke studio musik —sebuah keputusan yang didasari oleh kecintaan mendalam pada hobi yang kini menjadi profesi utama.
BACA JUGA:Dari Seni Pedalangan ke Panggung Pernikahan: Kisah Perjalanan Karier Fariz sebagai Pranotocoro
Sentuhan Magis untuk Kota Batu
Saat ini, Hendrix lebih banyak mendedikasikan karyanya untuk mengangkat potensi lokal Kota Batu. Perannya tidak main-main, ia menjadi sosok di balik layar yang menerjemahkan identitas sebuah institusi ke dalam harmoni.
Beberapa proyek prestisius yang baru saja ia selesaikan meliputi:
- Seni dan Inklusi: Menggarap musik ilustrasi berdurasi 28 menit untuk drama theatrikal "Arjuna Wiwaha". Proyek emosional ini melibatkan anak-anak disabilitas dan mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Batu.
- Wisata dan Bisnis: Menciptakan jingle dan mars untuk Hilltop Caffe, memberikan identitas audio bagi destinasi wisata tersebut.
- Religi dan Sosial: Menyusun karya musik untuk Gereja Songgoriti yang membawa pesan universal lintas agama, serta memproduksi jingle untuk Klinik NU Kota Batu.
"Seni yang seutuhnya itu tidak akan bisa ditembak dengan mesin. Harus ada sesuatu yang kita lihat dan kita rasakan prosesnya," kata Hendrix Santoso, Rabu (6/5) saat dijumpai di rumahnya.
BACA JUGA:Kabar Sejuk dari Makkah: Wali Kota Batu Nurochman Ungkap 'Romantisme Spiritual' Jemaah di Tanah Suci
Melawan Arus Digital: AI vs Taste
Menanggapi maraknya penggunaan AI dalam industri kreatif, Hendrix menanggapinya dengan optimisme yang tenang. Baginya, AI hanyalah alat bantu untuk mencari inspirasi cepat atau konsep awal, namun tetap memiliki keterbatasan fatal: ketiadaan jiwa.
"AI itu dikonsep, sehingga akan muncul keseragaman-keseragaman yang tidak bisa dipungkiri," ujarnya.
Hendrix menekankan bahwa seorang komposer sejati harus terjun langsung ke lapangan. Untuk membuat sebuah mars atau jingle, ia perlu merasakan suasana, melihat kejadian, dan menangkap esensi brand tersebut secara langsung agar taste atau rasa yang dihasilkan unik dan autentik.
Menurutnya, kematangan seorang seniman ditentukan oleh tiga pilar utama: waktu, pengalaman, dan talenta. Hal-hal inilah yang menurutnya tidak bisa dibohongi dan tidak bisa diteorikan dengan akal pikir semata.
BACA JUGA:Perebutan Kursi Sekda Kota Batu: 6 Kandidat Melaju, 4 Tereliminasi di Tahap Administrasi
Membangun Jejaring, Menjaga Eksistensi
Meski kini bergerak sebagai single fighter, karya-karya Hendrix terus mengalir melalui promosi mulut ke mulut (word of mouth). Keberhasilannya menangani acara besar seperti Hari Ulang Tahun PCNU Kota Batu semakin memperkokoh posisinya sebagai penata musik (arranger) kepercayaan masyarakat.
Hendrix Santoso adalah bukti bahwa di tengah dunia yang semakin otomatis, sentuhan manusiawi tetap menjadi komoditas paling berharga dalam dunia seni. Bagi para pekerja seni lainnya, ia berpesan untuk tidak khawatir. Selama karya diciptakan dengan rasa, ia akan selalu menemukan tempat di hati pendengarnya.
Sumber:




