1 tahun disway

Voting Penggunaan Militer untuk Buka Selat Hormuz Ditunda DK PBB Karena Jumat Agung

Voting Penggunaan Militer untuk Buka Selat Hormuz Ditunda DK PBB Karena Jumat Agung

Bendera berbagai negara dipasang di depan kantor PBB.-UN---

WASHINGTON DC, DISWAYMALANG.ID–Dewan Keamanan (DK) PBB tidak jadi menggelar pemungutan suara penggunaan kekuatan militer internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Rencana voting digelar Jumat, 3 April 2026. Penundaan dilakukan  berkaitan dengan libur Jumat Agung di negara-negara PBB.

Rancangan resolusi yang diajukan Bahrain itu bertujuan memberi kewenangan kepada negara-negara anggota untuk melindungi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik vital distribusi energi dunia.

“Kami tidak dapat menerima terorisme ekonomi yang berdampak pada kawasan kami dan dunia, karena seluruh dunia turut terdampak oleh perkembangan ini,” ujar Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Alrowaiei, pekan ini.

BACA JUGA:Kemenlu RI: Iran Bakal Izinkan Dua Kapal Pertamina Lintasi Selat Hormuz

Situasi di kawasan semakin memanas setelah Iran memperketat kontrol di selat tersebut. Langkah itu disebut sebagai respons atas serangan militer yang melibatkan Amerika dan Israel dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Jika disahkan, resolusi ini memungkinkan negara-negara bertindak sendiri atau melalui kerja sama militer multinasional untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Namun, pendekatan tersebut berbentuk tindakan defensif, bukan agresif.

China Ingatkan Bisa Perburuk Eskalasi Politik

Meski begitu, jalan menuju persetujuan tidak mudah. China secara terbuka mengingatkan bahwa izin penggunaan kekuatan bisa memperburuk eskalasi konflik.

BACA JUGA:Perang Iran Belum Reda, Menhaj Pastikan Persiapan Haji 2026 Sudah 100 Persen

“Mengizinkan negara-negara anggota menggunakan kekuatan (militer,Red) sama saja dengan melegitimasi penggunaan kekuatan yang melanggar hukum dan tidak selektif,” ujar Duta Besar China Fu Cong.

Sementara Russia juga menunjukkan sikap skeptis terhadap langkah yang dianggap terlalu sepihak. Di sisi lain, Donald Trump justru mengeluarkan pernyataan yang memicu perhatian.

Trump menyarankan negara-negara terdampak krisis energi untuk mengamankan pasokan mereka sendiri, tanpa bergantung pada bantuan militer Amerika.

BACA JUGA:Indonesia Siap-Siap, Ini Daftar Negara Umumkan Darurat Energi Imbas Perang Iran-AS

Penutupan Selat Hormuz sendiri berdampak luas. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur ini. Gangguan di wilayah tersebut langsung mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran global.

Sumber: harian disway