Ini Desain Resmi Busana Khas Kota Malang: Terinspirasi Bupati Era 1898–1934
Wali Kota Malang Memakai Baju Khas Malangan--
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menetapkan desain resmi busana khas daerah yang mengangkat nilai sejarah, budaya, dan karakter kepemimpinan lokal sebagai identitas kota.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, mengatakan penetapan busana tersebut telah melalui kajian mendalam terkait nilai sosial budaya yang berkembang di masyarakat.
“Busana ini dirancang sebagai representasi identitas Kota Malang yang memadukan unsur sejarah dan budaya lokal,” ujarnya, Rabu (1/4).
Busana khas Kota Malang didominasi warna hitam dan putih. Atasan berupa jas berkerah weper warna hitam dipadukan dengan kemeja putih berkerah tinggi serta dasi panjang.
BACA JUGA:9 Drama Korea yang Tayang April 2026: Dari Aksi Menegangkan hingga Kisah Romansa
Bagian bawahan menggunakan kain batik motif Tugu Pucuk Kopi yang dikenakan di atas lutut, dilengkapi celana panjang hitam. Aksesori seperti selempang dan obeng brew turut menjadi kelengkapan busana.
Penutup kepala menggunakan topi Aalstenaar yang dipadukan dengan kain udeng bermotif serupa, serta sepatu pantofel kulit hitam sebagai alas kaki.
Desain busana juga mengalami penyesuaian agar tetap fungsional saat digunakan dalam kegiatan lapangan.
Penggunaan kain panjang dinilai kurang fleksibel, sehingga dimodifikasi menjadi sebatas lutut dan dipadukan dengan celana panjang untuk mendukung mobilitas.
BACA JUGA:Animo Umrah Tetap Tinggi di Tengah Tantangan Geopolitik, EsraGo Pastikan Keamanan Jemaah
Penyesuaian ini mencerminkan kesiapan pejabat dalam menjalankan tugas secara langsung di lapangan.
Desain busana khas ini terinspirasi dari gaya berpakaian Raden Adipati Aryo Suryo Adiningrat yang juga dikenal sebagai Raden Saleh.
Figur tersebut menjabat sebagai Bupati Malang pada periode 1898 hingga 1934 dan dikenal memiliki karakter kepemimpinan yang adaptif serta dekat dengan masyarakat.
Motif batik Tugu Pucuk Kopi yang digunakan merupakan pengembangan dari motif kawung yang terdapat pada ornamen peninggalan era Kerajaan Singasari.
Sumber:











