April Diprediksi Lebih Panas! Peringatan PBB dan BRIN soal ‘Godzilla El Nino’ Menguat
Cuaca pada bulan april diprediksi lebih ekstrem--
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Gelombang panas yang mulai terasa di berbagai wilayah Indonesia diprediksi akan semakin meningkat dalam waktu dekat. Organisasi lingkungan Greenpeace mengungkapkan bahwa bulan April berpotensi menghadirkan suhu yang lebih ekstrem, seiring peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dikutip dari laman resmi Greenpeace Indonesia, Sabtu (28/3/2026), peringatan ini tidak muncul tanpa alasan. Berdasarkan kajian World Meteorological Organization (WMO), bumi saat ini menyerap panas matahari lebih besar dibandingkan yang dapat dilepaskan kembali ke atmosfer. Kondisi ini dipicu oleh tingginya emisi karbon dioksida yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.
Fenomena ini diperparah dengan potensi kemunculan El Nino dalam intensitas tinggi. Bahkan, BRIN menyebut kemungkinan terjadinya “Godzilla El Nino”, yaitu kondisi El Nino ekstrem yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering dari biasanya.
BACA JUGA:Meluncur Fitur Baru WhatsApp: Chat Transfer dan Dual Account iPhone, Juga AI Canggih
Di Indonesia sendiri, dampak panas ekstrem sudah mulai terasa. Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami suhu di atas 34 derajat Celsius. Bahkan, suhu tertinggi sempat mencapai 37,2 derajat Celsius di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada pertengahan Maret.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi ini juga dipengaruhi oleh fenomena gerak semu matahari yang menyebabkan intensitas radiasi maksimum di wilayah sekitar garis khatulistiwa. Meski demikian, faktor perubahan iklim global tetap menjadi pendorong utama meningkatnya suhu secara ekstrem.
Dampak dari panas ekstrem ini tidak bisa dianggap sepele. Selain meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah, kondisi ini juga berpotensi memicu gagal panen, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga ancaman kesehatan seperti dehidrasi dan penyakit demam berdarah.
BACA JUGA:Seorang Dokter Internship Meninggal Diduga Akibat Campak, Ini Langkah Kemenkes
Lebih jauh, WMO menegaskan bahwa salah satu penyebab utama pemanasan global adalah penggunaan energi fosil secara masif, seperti batu bara, minyak, dan gas bumi. Tingkat karbon dioksida di atmosfer bahkan disebut telah mencapai level tertinggi dalam jutaan tahun terakhir.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung saat ini. Kenaikan suhu yang dirasakan masyarakat bukan sekadar fenomena alam biasa, tetapi berkaitan erat dengan aktivitas manusia dan pola konsumsi energi global.
Greenpeace pun mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipatif sederhana, seperti menjaga hidrasi tubuh, menggunakan pelindung dari panas, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya transisi menuju energi terbarukan.
BACA JUGA:Arus Balik Lebih Merata, Jasa Marga Imbau Waspadai Kepadatan di Rest Area 28-29 Maret
Dengan tren suhu yang terus meningkat, bulan April diperkirakan menjadi salah satu periode paling panas dalam tahun ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem yang semakin nyata.
Sumber: greenpeace indonesia









