Prepekan: Tradisi Jelang Lebaran yang Masih Hidup di Jawa, Ini Makna dan Sejarahnya
Ilustrasi : Tradisi Prepekan Di Kota Malang--
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID–Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat di sejumlah daerah di Jawa memiliki satu tradisi khas yang masih bertahan hingga kini, yakni prepekan. Tradisi ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum Lebaran dan identik dengan aktivitas belanja kebutuhan hari raya.
Bagi sebagian orang, istilah prepekan mungkin terdengar asing. Namun bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah seperti Malang dan sekitarnya, prepekan sudah menjadi bagian dari dinamika Ramadan menjelang Idulfitri.
BACA JUGA:9 Amalan Sunnah Idul Fitri 2026, Makan sebelum Salat Id hingga Berjalan Kaki ke Tempat Salat
Apa Itu Prepekan?
Secara sederhana, prepekan merujuk pada momen ketika masyarakat mulai memadati pasar untuk membeli berbagai kebutuhan Lebaran. Kata “prepekan” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang merujuk pada waktu mendekati hari besar atau momen penting.
Dalam konteks Lebaran, prepekan biasanya terjadi pada H-7 hingga H-1 Idulfitri. Pada masa ini, aktivitas ekonomi meningkat tajam, terutama di pasar tradisional.
Masyarakat berburu berbagai kebutuhan seperti bahan makanan, kue kering, pakaian baru, hingga perlengkapan ibadah.
BACA JUGA:BTS Rilis Teaser MV 'SWIM', Visual Kapal & Laut Picu Dugaan Terinspirasi Mitologi Yunani
Pasar Tradisional Jadi Pusat Keramaian
Saat prepekan berlangsung, pasar tradisional menjadi titik paling ramai. Lonjakan pengunjung terlihat sejak pagi hingga malam hari.
Pedagang pun memanfaatkan momen ini dengan menambah stok barang dagangan. Berbagai produk khas Lebaran mulai bermunculan, seperti ketupat, opor ayam, aneka kue kering, hingga sirup.
Tak hanya itu, pedagang pakaian juga kebanjiran pembeli yang mencari baju baru untuk dikenakan saat Hari Raya.
Fenomena ini menjadi pemandangan tahunan yang selalu terulang menjelang Lebaran, sekaligus menandai semakin dekatnya hari kemenangan.
Tradisi Lama yang Masih Bertahan
Prepekan bukan sekadar aktivitas belanja. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.
Pada masa lalu, prepekan menjadi momen penting bagi keluarga untuk mempersiapkan segala kebutuhan Lebaran secara bersama-sama. Aktivitas ini juga menjadi sarana interaksi sosial, karena masyarakat bertemu dan bertegur sapa di pasar.
Sumber:
