1 tahun disway

Umat Hindu di Kota Batu Gelar Ritual Tawur Agung: Simbol Pembersihan Diri dan Alam Semesta

Umat Hindu di Kota Batu Gelar Ritual Tawur Agung: Simbol Pembersihan Diri dan Alam Semesta

​Sri Begawan Putranatha Anom Pamayur, saat memipin Upacara Nyepi-panca rp-

BATU, DISWAYMALANG.ID–Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di wilayah Junggorejo, Kota Batu, mulai melaksanakan rangkaian ritual suci. Salah satu prosesi utama yang digelar adalah upacara Tawur Agung, sebuah ritual yang bertujuan membersihkan energi negatif, baik dalam diri manusia maupun di alam semesta.

BACA JUGA: Sambut Nyepi, Pemuda KHA Batu Gotong-royong Siapkan Tiga Patung Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Pembersihan Diri

​Sri Begawan Putranatha Anom Pamayur, yang memimpin Tawur Agung, Rabu (18/3), menjelaskan, Tawur Agung merupakan momen krusial sebelum memasuki kenyamanan Nyepi.

BACA JUGA: Trik Hemat BBM Lebaran: Cara Tukar Poin Shell, BP, dan Vivo Jadi Potongan Harga

​Tawur Agung itu tujuannya membersihkan aura negatif di dalam diri dan keluarga. Harapannya, saat melaksanakan Catur Brata Penyepian besok, kita tidak lagi mendapat godaan atau gangguan dari unsur-unsur negatif alam semesta, ujar Sri Begawan dalam sesi wawancara.

​Tahun ini, perayaan Nyepi mengusung tema yang mendalam, yakni "Satu Bumi Satu Keluarga". Tema ini mencerminkan semangat moderasi beragama dan adaptasi budaya yang kental dalam ajaran Hindu di Indonesia.

BACA JUGA: Jelang Lebaran, 57 Ribu Warga Malang Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari Pemkot

​Menurut Sri Begawan, pelaksanaan Nyepi di setiap daerah memiliki ciri unik yang menyesuaikan dengan adat setempat atau yang dikenal dengan istilah Desa Kala Patra.

  • ​Di Jawa: Pertunjukan mengikuti adat Jawa yang kental. ​Di Bali: Menyesuaikan dengan tradisi khas Pulau Dewata.
  • ​Filosofi: Meski caranya berbeda-beda, tujuannya tetap satu: menyembah Tuhan dengan tulus ikhlas.

​"Tuhan itu mengerti segala macam bahasa. Jadi tidak harus terdoktrin harus begini atau begitu, asalkan dilakukan dengan tulus," menambahkan menekankan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika.

​Kemeriahan menjelang Nyepi juga terlihat dari persiapan pawai Ogoh-Ogoh. Menariknya, salah satu Ogoh-Ogoh besar yang diarak didatangkan langsung dari Bali oleh warga jurang kuali Kota Batu yang baru saja pulang merantau.

​Pawai ini juga menjadi potret nyata toleransi di Kota Batu. Sri Begawan mengungkapkan bahwa pemuda dari lintas agama, termasuk remaja masjid dan Karang Taruna, serta bahu-membahu membantu persiapan acara.

BACA JUGA:9 Ide Hampers Lebaran 2026: Dari Kue Klasik hingga Gift Box Estetik

  • ​Kolaborasi: Remaja masjid membantu pembuatan atribut dan persiapan teknis.
  • ​Partisipasi: Mereka juga akan ikut serta mengawal pawai Ogoh-Ogoh di sekitar lingkungan desa.

​Persiapan Catur Brata Penyepian

​Setelah prosesi Tawur Agung dan pawai selesai, umat Hindu akan memasuki masa Upawasa atau puasa selama 24 jam penuh.

  • ​Lokasi: Umat yang berusia lanjut biasanya melaksanakan Nyepi di rumah masing-masing, sementara generasi muda banyak yang memilih fokus di Pura Indrajaya.
  • ​Kegiatan: Selama 24 jam, mereka akan melakukan meditasi (Yoga Samadhi) dan tidak melakukan aktivitas duniawi.
  • ​Penutup: Rangkaian akan diakhiri dengan sembahyang bersama yang disebut Ngembak Geni pada lusa mendatang.

​Perayaan Nyepi di Kota Batu tahun ini tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Hindu, namun juga menjadi bukti bahwa keberagaman budaya dan agama dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.

Sumber: