1 tahun disway

WHO Konfirmasi Temuan Virus Nipah di India, Belum Ada Antivirusnya, Indonesia Siaga

WHO Konfirmasi Temuan Virus Nipah di India, Belum Ada Antivirusnya, Indonesia Siaga

Indoensia perketat pintu masuk dari dari luar negeri guna mencegah masuknya virus Nipah yang ditularkan kelelewar ke manusia. -karantinaindonesia.go.id--

WASHINGTON, DISWAYMALANG.ID–Laporan terbaru dari World Health Organization (WHO) melalui Disease Outbreak News (DONs) yang dirilis pada 30 Januari 2026, secara resmi mengonfirmasi temuan kasus Virus Nipah di West Bengal, India. Laporan itu memuat tujuh poin penting terkait kronologi kejadian ini, yang menjadi landasan penting dalam menentukan langkah penanggulangan yang tepat.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pembawa virus, terutama kelelawar buah, serta melalui produk hewan yang terkontaminasi.

Pada manusia, infeksi Virus Nipah dapat menimbulkan gejala awal seperti demam, sakit kepala, dan gangguan pernapasan, hingga komplikasi serius berupa peradangan otak (ensefalitis). Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk Virus Nipah, sehingga upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif.

BACA JUGA:Waspada Virus Nipah, Dinkes Kota Malang Imbau Warga Hindari Konsumsi Buah Jatuh

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, dua kasus yang banyak diberitakan selama ini diketahui berjenis kelamin pria dan wanita dengan usia  antara 20 hingga 30 tahun. Mereka merupakan perawat yang berkerja di rumah sakit swasta yang terletak di Barasat, Benggala Barat, India. Ternyata pada akhir Desember 2025 kedua pasien tersebut sudah menunjukkan gejala sakit berat dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.

Kepastian mengenai penyebab sakit mereka baru terungkap pada 13 Januari 2026, setelah hasil pengujian sampel dari India National Institute of Virology (NIV) di Pune mengonfirmasikan adanya infeksi Virus Nipah melalui metode deteksi RT-PCR dan ELISA.

Menanggapi hal tersebut, Prof Tjandra memberikan catatan khusus berdasarkan pengalamannya saat menjabat Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang berkantor di New Delhi, India. Ia menyampaikan, reputasi The India National Institude of Virology memang selalu diakui kualitasnya secara internasional.

BACA JUGA:Mulai Tahun 2026, Cek Kesehatan Gratis Ditindaklanjuti Penanganan Medis Gratis

Oleh karena itu, keberadaan institusi dengan standar serupa di Indonesia sangatlah penting untuk memperkuat kemampuan deteksi dan respons penyakit menular di masa mendatang.

Hingga 21 Januari 2026, perawat wanita masih dalam kondisi kritis di ICU dengan bantuan ventilator. Sementara perawat pria yang sempat mengalami gangguan neurologis berat akibat Virus Nipah sudah mulai menunjukkan kondisi yang berangsur membaik.

Perkembangan positif dilaporkan oleh The Indian National Centre for Disease Control pada 27 Januari 2026, yang secara resmi menyatakan bahwa tidak ada lagi penambahan kasus terkonfirmasi terkait wabah di Baratas, Benggala Barat.

BACA JUGA:Kemenkes RI Peringatkan Jatim dan Kalsel, Jadi Lokasi Sebaran Superflu Tertinggi

WHO menilai risiko kesehatan masyarakat akibat infeksi Virus Nipah saat ini berada pada level "moderate" untuk skala sub nasional di India. Walaupun begitu, risiko kesehatan secara regional maupun global masih dikategorikan dalam tingkat yang rendah.

Virus Nipah sudah ditetapkan sebagai petogen prioritas untuk mempercepat pengembangan penemuan alat dan upaya penanganan oleh WHO. Langkah ini merupakan bagian dari cetak biru penelitian dan pengembangan WHO untuk epidemi.

Sumber: harian.disway.id