1 tahun disway

Hari Lahan Basah Sedunia 2 Februari: Mengapa Ekosistem Ini Sangat Berharga bagi Masa Depan Kita?

Hari Lahan Basah Sedunia 2 Februari: Mengapa Ekosistem Ini Sangat Berharga bagi Masa Depan Kita?

2 Februari diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia--iStock

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Hari Lahan Basah Sedunia diperingati setiap tanggal 2 Februari untuk mengingatkan kita betapa krusialnya peran ekosistem ini bagi keberlangsungan hidup di bumi.

Meskipun sering kali dipandang sebelah mata sebagai "lahan tidur" atau rawa yang tidak berguna, lahan basah sebenarnya adalah denyut nadi kehidupan yang menyediakan air bersih, sumber pangan, hingga perlindungan dari bencana alam.

Melalui peringatan ini, dunia diajak untuk menyadari bahwa menjaga kelestarian lahan basah bukan hanya soal lingkungan, namun tentang menjaga masa depan ekonomi, iklim, dan kesejahteraan manusia secara global.

BACA JUGA:Fakta-Fakta Seru dari Konser ATEEZ di Jakarta, Yeosang Sapa ATINY dengan Bahasa Indonesia

Mengenal Luasnya Ekosistem Lahan Basah

Lahan basah mencakup spektrum yang sangat luas, tidak hanya terbatas pada rawa. Ekosistem ini meliputi wilayah air tawar seperti sungai, danau, dan lahan gambut, hingga wilayah pesisir seperti hutan bakau, terumbu karang, dan muara.

Bahkan, tempat-tempat buatan manusia seperti sawah, tambak, dan waduk juga masuk dalam kategori ini. Air menjadi faktor utama yang mengendalikan lingkungan serta seluruh kehidupan flora dan fauna di dalamnya.

BACA JUGA:Berlaku Februari 2026, Ini Syarat Baru Naik Kereta Api bagi Anak dan Lansia

Benteng Keanekaragaman Hayati dan Penopang Hidup

Meski hanya menutupi sekitar 6% permukaan bumi, lahan basah menjadi rumah bagi 40% spesies tanaman dan hewan di dunia. Bagi manusia, peran ekosistem ini tak ternilai harganya:

  • Jasa ekosistem: berperan penting dalam pengendalian banjir, pemurnian air, serta pengaturan iklim.
  • Mata pencaharian: lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia menggantungkan hidupnya pada kekayaan lahan basah.
  • Ketahanan pangan: mendukung sektor perikanan dan pertanian yang menjadi sumber makanan utama masyarakat global.

BACA JUGA:Terbit Red Notice Riza Chalid, 'Raja Minyak' Ini Diburu di 196 Negara

Krisis Lahan Basah yang Mengkhawatirkan

Fakta pahit menunjukkan bahwa lahan basah menghilang tiga kali lebih cepat dibandingkan hutan. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, dunia telah kehilangan sekitar 35% wilayah lahan basah. Ancaman utama muncul dari aktivitas manusia seperti:

  • Alih fungsi lahan untuk konstruksi dan pertanian secara masif.
  • Polusi limbah dan eksploitasi sumber daya air yang berlebihan.
  • Dampak buruk perubahan iklim serta masuknya spesies invasif.

BACA JUGA:Cuaca Malang Raya 2 Februari 2026: Kota Malang dan Batu Diprediksi Hujan, Waspadai Angin Kencang di Kabupaten

Sumber: berbagai sumber