Dinkes Kota Malang Targetkan New Zero Stunting 2026, Fokus Cegah Calon Stunting sejak Dini
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr Husnul saat memberikan pernyataan tentang Stunting--
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID–Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menargetkan pencapaian New Zero Stunting pada 2026 dengan memperkuat upaya pencegahan sejak dini, khususnya pada kelompok rentan. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGM), angka stunting di Kota Malang saat ini tercatat sekitar 8,05 persen dari balita yang diperiksa.
Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, M.Kes, mengatakan data EPPGM menjadi rujukan utama pemantauan stunting di daerah sembari menunggu rilis resmi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari pemerintah pusat.
“Secara nasional acuannya SSGI, tetapi untuk pemantauan rutin di Kota Malang kami menggunakan EPPGM. Saat ini angkanya sekitar 8,05 persen dari total balita yang kami periksa,” ujar dr. Husnul, Senin (26/1).
Ia menjelaskan, strategi penanganan stunting di Kota Malang dibagi ke dalam dua pendekatan utama. Pertama, mencegah calon stunting agar tidak berkembang menjadi stunting, dan kedua, melakukan intervensi pada anak yang telah teridentifikasi stunting agar dapat keluar dari kondisi tersebut.
“Stunting kami bagi dua. Yang pertama mencegah calon stunting agar tidak menjadi stunting, dan yang kedua mengupayakan anak yang sudah stunting bisa keluar dari kondisi itu,” jelasnya.
Sebagai bagian dari komitmen jangka menengah, Pemkot Malang menargetkan tidak ada kasus stunting baru pada 2026. Fokus pencegahan diarahkan pada kelompok-kelompok berisiko, seperti ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, bayi dengan berat badan lahir rendah, serta remaja putri dengan kadar hemoglobin (HB) rendah berdasarkan hasil skrining kesehatan.
BACA JUGA:Samsung Galaxy A56, Ini Kehebatannya dibanding Galaxy A55 dan Pendahulunya
Menurut dr. Husnul, kondisi gizi remaja putri menjadi faktor krusial dalam upaya pencegahan stunting jangka panjang karena berpengaruh langsung terhadap kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak.
“Remaja putri dengan HB rendah menjadi perhatian serius, karena ini akan berdampak pada kehamilan dan meningkatkan risiko stunting ke depan,” katanya.
Sementara itu, intervensi bagi anak yang telah mengalami stunting diprioritaskan pada usia di bawah dua tahun, yang dinilai sebagai periode emas untuk perbaikan status gizi dan pertumbuhan.
BACA JUGA:Belum Bayar Utang Puasa Ramadan Tahun Lalu, Simak Ini Batas Waktunya
“Anak usia di bawah dua tahun menjadi prioritas karena intervensinya lebih efektif dan hasilnya lebih cepat,” tambahnya.
Upaya intervensi dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan secara berkala, pemberian makanan tambahan bergizi, edukasi orang tua, serta penguatan layanan kesehatan ibu dan anak di fasilitas kesehatan maupun di tingkat masyarakat.
Dr. Husnul menegaskan, keberhasilan program penurunan stunting membutuhkan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.
Sumber:
