26 Januari Hari Energi Bersih Internasional, PBB Serukan Percepatan Transisi Global yang Berkeadilan
26 Januari diperingati sebagai Hari Energi Bersih Internasional--iStock
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Hari Energi Bersih Internasional diperingati setiap tanggal 26 Januari. Tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi masyarakat dunia untuk merefleksikan pergeseran energi global yang sedang berlangsung. Di tengah ancaman peningkatan suhu bumi yang diprediksi akan melewati ambang batas 1,5°, terdapat urgensi besar untuk mempercepat langkah transisi.
BACA JUGA:Belum Bayar Utang Puasa Ramadan Tahun Lalu, Simak Ini Batas Waktunya
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menekankan tanggung jawab kolektif saat ini adalah memastikan transisi dari bahan bakar fosil dilakukan secara adil, tertib, dan merata.
Energi terbarukan kini telah bertransformasi menjadi mesin penggerak utama perubahan tersebut. Selain menjadi sumber energi baru termurah di mayoritas wilayah dunia, tahun lalu mencatatkan sejarah ketika tenaga angin dan surya mampu mengungguli batu bara dalam produksi listrik global.
BACA JUGA:Samsung Galaxy A56, Ini Kehebatannya dibanding Galaxy A55 dan Pendahulunya
Kehadiran energi bersih bukan sekadar tentang angka, namun fondasi bagi kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi yang lebih baik bagi komunitas yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses listrik.
Meskipun pencapaian tersebut cukup signifikan, revolusi energi bersih dinilai belum bergerak cukup cepat. Hambatan infrastruktur jaringan listrik dan tingginya biaya modal masih menjadi ganjalan bagi banyak negara untuk berpartisipasi penuh.
BACA JUGA:Indonesia Kembali Gagal Juara M-Series, tapi Alter Ego Ukir Sejarah di M7
"Kita harus melipatgandakan kapasitas energi terbarukan global hingga tiga kali lipat pada tahun 2030, dengan cara menghapus hambatan, memangkas biaya, dan menghubungkan energi bersih ke masyarakat dan industri dengan skala, kecepatan, dan solidaritas," tegas Guterres.
Keberhasilan target tersebut memerlukan sinergi dari berbagai sektor strategis. Para regulator dituntut untuk mengadopsi kebijakan insentif dan menyederhanakan perizinan yang tetap menjaga kelestarian alam.
Di sisi lain, perusahaan utilitas perlu melakukan digitalisasi jaringan listrik guna menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Terkait rantai pasok, terdapat penekanan khusus pada pengelolaan mineral kritis yang menjadi bahan baku teknologi hijau.
"Hal ini mencakup mineral kritis yang penting bagi transisi energi, yang harus memberikan manfaat bagi negara dan komunitas penghasil, bukan hanya pasar global," imbuhnya.
Peran sektor keuangan dan bank pembangunan multilateral juga menjadi kunci, terutama dalam menurunkan risiko investasi di negara-negara berkembang. Sebagai penutup, Sekretaris Jenderal PBB mengingatkan bahwa transisi ini harus berorientasi pada manusia.
Sumber: the united nations in indonesia
