UIN Maliki Malang Kukuhkan 11 Guru Besar, Wayang Diangkat sebagai Media Pendidikan Islam
Pengukuhan Guru Besar Di Pimpin Oleh Ketua Senat UIN Maliki Malang Prof. Dr. H. Nur Ali, M.Pd., --
DINOYO, DISWAYMALANG.ID–Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengukuhkan 11 Guru Besar dari berbagai bidang strategis dalam Rapat Terbuka Senat yang digelar di Aula Rektorat Lantai 5, Selasa (20/1). Pengukuhan ini menjadi penanda penguatan kapasitas akademik UIN Maliki Malang di awal tahun 2026.
Rapat Terbuka Senat dipimpin Ketua Senat UIN Maliki Malang Prof. Dr. H. Nur Ali, M.Pd., serta dihadiri Rektor, jajaran pimpinan universitas, para guru besar, sivitas akademika, dan tamu undangan dari berbagai perguruan tinggi.
Sebanyak 11 guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang pendidikan, bahasa, hukum, psikologi, hingga kajian Islam. Mereka dinilai memiliki peran strategis dalam pengembangan keilmuan dan penguatan integrasi keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan di lingkungan UIN Maliki Malang.
BACA JUGA:UIN Maliki Malang Nyatakan Kesiapan Jadi Penyelenggara Cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia
Dalam sambutannya, Prof. Nur Ali menegaskan bahwa jabatan Guru Besar bukan sekadar capaian akademik tertinggi, melainkan amanah moral dan intelektual untuk menjaga marwah keilmuan dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
BACA JUGA:Warna Mirip iPhone 17 Pro, Ini Detail Honor Magic 8 Pro Air yang Bakal Rilis di Indonesia
“Guru Besar adalah penjaga arah keilmuan. Tugasnya tidak berhenti pada riset dan publikasi, tetapi melahirkan gagasan yang berdampak bagi umat dan bangsa,” tegasnya.
Salah satu pidato pengukuhan yang menyita perhatian disampaikan Prof. Dr. H. Muhammad Asrori, M.Ag., Guru Besar Bidang Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam orasinya, ia mengangkat tema pemanfaatan seni wayang sebagai media pendidikan Islam.
Menurut Prof. Asrori, wayang bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan media edukatif yang sarat nilai moral, etika, dan spiritual. Tokoh-tokoh seperti Semar dan Pandawa merepresentasikan nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, serta keteladanan yang sejalan dengan ajaran Islam.
BACA JUGA:Green Day Siap Guncang Pembukaan Super Bowl LX di Tengah Polemik Halftime Show Bad Bunny
“Wayang memiliki kekuatan narasi yang menyentuh aspek afektif peserta didik. Nilai Islam dapat disampaikan secara halus, kontekstual, dan mudah diterima karena dekat dengan budaya masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara pedagogis, seni wayang mampu mendorong pembelajaran interaktif, memperkuat pendidikan karakter, serta menjadi pendekatan kultural dalam dakwah dan pendidikan Islam moderat. Prof. Asrori juga menekankan pentingnya adaptasi wayang ke media digital agar relevan dengan generasi muda.
BACA JUGA:Skripsi Lebih Mudah, Ini Deretan Website dan Platform AI Penyedia Referensi Ilmiah
Sumber:
