1 tahun disway

Spesifikasi Pesawat ATR 42-500 Turboprop yang Hilang di Pegunungan Maros

Spesifikasi Pesawat ATR 42-500 Turboprop yang Hilang di Pegunungan Maros

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan nomor registrasi PK-TSY-Istimewa--

JAKARTA, DISWAYMALANG .ID–Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di kawasan pegunungan Bantimurung-Bulusaraung (Babul), Maros, pada Sabtu sore (17 Januari 2026) merupakan jenis pesawat turboprop bermesin ganda yang diproduksi oleh perusahaan bersejarah asal Prancis-Italia, ATR (Avions de Transport Régional).

Keluarga pesawat ATR 42 mulai dikembangkan pada awal tahun 1980-an, dengan angka 42 menunjukkan kapasitas awal yang dirancang untuk mengangkut sekitar 42 hingga 50 orang penumpang. Pesawat milik PT Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami insiden tersebut memiliki nomor registrasi PK-THT.

BACA JUGA:KNKT Kategorikan Insiden Pesawat ATR 42-500 di Maros sebagai CFIT, Pesawat Terkendali sebelum Menabrak

Perkembangan Generasi Pesawat ATR 42

Model pertama dari seri ini adalah ATR 42-300 yang mulai beroperasi pada tahun 1985 dan menjadi produk sukses bagi produsennya. Kemudian muncul varian ATR 42-320 pada awal tahun 1990-an sebagai peningkatan, yang menggunakan mesin PW121 yang lebih bertenaga.

Seri ATR 42-500 diperkenalkan pada tahun 1994 dan diproduksi hingga tahun 2003. Varian ini menjadi pilihan utama untuk penerbangan jarak pendek dan menengah, terutama di daerah dengan infrastruktur bandara yang terbatas.

Sistem Propulsi dan Performa

Perubahan paling mencolok pada ATR 42-500 dibandingkan generasi sebelumnya terletak pada sistem propulsinya. Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW127E/M, yang masing-masing mampu menghasilkan tenaga sebesar 2.400 shaft horsepower (shp).

Dengan dukungan mesin tersebut, pesawat dapat mencapai kecepatan jelajah maksimal sekitar 563 km/jam (304 knots). Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pacu yang pendek (Short Take-Off and Landing/STOL), menjadikannya sangat cocok untuk bandara di daerah terpencil atau wilayah kepulauan.

BACA JUGA:Badan Pesawat ATR PK-THT Ditemukan Hancur di Gunung Bulusaraung, SAR Fokus Rvakuasi Korban

Desain Baling-Baling dan Kenyamanan Kabin

Ciri khas teknis ATR 42-500 adalah penggunaan baling-baling Hamilton Standard dengan enam bilah. Desain ini dirancang secara aerodinamis untuk mengurangi tingkat kebisingan dan getaran di dalam kabin secara signifikan.

Produsen juga menyematkan teknologi isolasi suara yang lebih baik pada varian ini, sehingga memberikan pengalaman terbang yang lebih nyaman dibandingkan pesawat turboprop generasi sebelumnya. Dalam konfigurasi standar satu kelas, kabin pesawat ini mampu menampung antara 42 hingga 50 penumpang dengan jarak kursi yang cukup lega.

Sumber: hariandisway