1 tahun disway

Developer Wajib Jujur Penggunaan AI dalam Game Mereka, Aturan Baru Valve!

Developer Wajib Jujur Penggunaan AI dalam Game Mereka, Aturan Baru Valve!

Steam perbarui kebijakan penggunaan AI sebagai alat pengembangannya. --Steam--

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Valve melakukan penyesuaian penting pada aturan pengungkapan (disclosure) penggunaan kecerdasan buatan generatif (generative artificial intelligence/AI) bagi developer yang ingin merilis game mereka di Steam.

Adalah pendiri GameDiscoverCo Simon Carless, yang kali pertama menyoroti hal ini melalui unggahan di LinkedIn. Carless menjelaskan, Valve telah menulis ulang formulir pertanyaan wajib bagi developer terkait penggunaan AI dalam proses pengembangan game.

Sebelum sebuah game bisa diunggah ke Steam, developer diwajibkan mengisi formulir yang menanyakan apakah mereka menggunakan generative AI selama proses produksi.


Steam perbolehkan pengembang membuat game dengan AI generatif seluruhnya, hanya saja akan dilabeli made with AI. --Steam--

Jika jawabannya ya, maka halaman Steam game tersebut akan diberi label khusus bertuliskan “Made with AI.” Label ini sejak awal dirancang untuk memberikan transparansi kepada pemain.

BACA JUGA:Onic Esport Kalahkan Evil Singapura di M7 World Championship, Jaga Asa Lolos Knockout Stage!

Namun, melalui bahasa baru yang diperbarui Valve, terdapat pembedaan yang lebih tegas soal jenis penggunaan AI yang wajib dilaporkan. Developer kini tidak lagi diwajibkan mengungkap penggunaan AI-powered tools yang sifatnya hanya membantu efisiensi kerja.

Contohnya termasuk alat bantu penulisan kode, debugging, atau workflow internal lain yang tidak menghasilkan konten akhir secara langsung.

Dalam formulir terbaru tersebut, Valve menegaskan bahwa “efficiency gains through the use of AI-powered development tools is not the focus of this section.” Dengan kata lain, penggunaan AI sebagai asisten kerja dianggap setara dengan alat bantu pengembangan lain, selama tidak menghasilkan konten game secara utuh.

BACA JUGA:Jadwal M7 World Championship Hari Ini, Sabtu 17 Januari 2026: Onic Tampil Lawan Falcons

Sebaliknya, kewajiban disclosure tetap berlaku ketat jika generative AI digunakan untuk menciptakan aset game secara penuh. Ini mencakup pembuatan karakter, lingkungan, ilustrasi, dialog, atau konten lain yang muncul langsung di dalam game.

Developer juga tetap harus melaporkan jika game mereka secara aktif menggunakan generative AI untuk menghasilkan konten saat dimainkan.

Tidak hanya itu, Valve juga mewajibkan disclosure apabila generative AI digunakan dalam pembuatan materi pemasaran, seperti ilustrasi promosi, trailer, atau aset visual untuk halaman Steam. Langkah ini menegaskan bahwa transparansi kepada konsumen tetap menjadi prioritas utama.

BACA JUGA:Dragon Ball Daima Perpanjang Epilog Anime dengan Adegan Baru

Perubahan kebijakan ini muncul tak lama setelah Larian Studios, pengembang Baldur’s Gate 3 dan seri Divinity, mendapat sorotan tajam dari komunitas.

Dalam sesi Reddit AMA, CEO Larian Studios Swen Vincke mengungkap bahwa timnya sempat menggunakan generative AI pada tahap awal pengembangan. Pernyataan tersebut memicu kritik dari sebagian penggemar.

Menanggapi reaksi tersebut, Vincke menyatakan bahwa Larian Studios akan “menahan diri” dari penggunaan generative AI ke depannya. Kasus ini menjadi contoh nyata betapa sensitifnya isu AI di mata komunitas gamer, khususnya terkait orisinalitas dan etika kreatif.

BACA JUGA:Aurora Turkiye Taklukkan Team Falcons di Swiss Stage M7 World Championship, Ini Keseruan Pertandingannya

Dengan pembaruan bahasa kebijakan ini, Valve tampaknya mengambil posisi tengah. Penggunaan AI diperbolehkan selama berfungsi sebagai alat efisiensi.

Namun tetap diawasi ketat ketika menyentuh ranah kreatif yang berdampak langsung pada pengalaman pemain. Isu ini diprediksi akan terus menjadi perbincangan sepanjang 2026 seiring semakin luasnya adopsi AI di industri game.

Sumber: harian.disway.id