1 tahun disway

Hari Menulis Surat Internasional 11 Januari, Refleksi Melambatkan Komunikasi di Era Digital Serbainstan

Hari Menulis Surat Internasional 11 Januari, Refleksi Melambatkan Komunikasi di Era Digital Serbainstan

Hari Menulis Surat Internasional 11 Januari menjadi pengingat pentingnya komunikasi penuh makna di tengah pesan instan dan ritme digital--getty images

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Di tengah notifikasi instan, pesan singkat, dan surel yang datang silih berganti, tanggal 11 Januari hadir sebagai jeda reflektif. Pada hari ini, dunia memperingati Hari Menulis Surat Internasional (International Letter Writing Day). Sebuah ajakan global untuk kembali menyentuh kertas, merangkai kata dengan tangan, dan menghidupkan kembali komunikasi yang lahir dari kesabaran serta perasaan.

Peringatan ini bukan sekadar nostalgia romantik terhadap masa lalu. Melainkan respons kultural atas komunikasi modern yang serba cepat namun kerap kehilangan kedalaman makna.

Sejarah dan Latar Belakang Peringatan

Hari Menulis Surat Internasional digagas oleh Richard Simpkin, seorang penulis dan fotografer asal Australia. Ia menginisiasi peringatan ini sebagai gerakan sederhana namun bermakna. Mengajak masyarakat dunia kembali merasakan kehangatan komunikasi personal melalui surat tulisan tangan.

BACA JUGA:Mengenal Gaya Hidup Zero Waste, Manfaat, dan Cara Memulainya

Simpkin melihat bahwa perkembangan teknologi digital, meski mempermudah komunikasi, secara perlahan menggerus kualitas hubungan manusia. Pesan instan yang cepat terkirim sering kali kehilangan konteks emosional, intonasi perasaan, dan ruang perenungan.

Dari kegelisahan inilah, Hari Menulis Surat Internasional lahir dan diperingati setiap 11 Januari. Tanggal tersebut dipilih sebagai simbol awal tahun. Sebuah momen yang tepat untuk memulai kembali kebiasaan lama yang sarat makna: menulis dengan kesadaran, bukan sekadar mengetik untuk segera terkirim.

Surat sebagai Medium Emosi dan Refleksi

Berbeda dengan pesan elektronik, surat memiliki kekhasan yang tak tergantikan. Proses menulisnya membutuhkan waktu, perhatian, dan kejujuran. Setiap coretan tinta, pilihan kata, hingga jeda antar kalimat mencerminkan emosi penulisnya secara utuh.

BACA JUGA:Galanthus, Bunga Snowdrop yang Mekar saat Alam Masih Berselimut Salju

Menulis surat juga menjadi ruang refleksi diri. Saat menulis, seseorang diajak untuk memperlambat pikiran, menyusun perasaan, dan menyampaikan pesan dengan lebih jujur. Tak heran jika surat kerap menjadi medium pengakuan, doa, permintaan maaf, hingga ungkapan cinta yang paling personal.


Di tengah pesan instan dan surel, peringatan ini mengajak dunia melambat, menulis surat sebagai medium emosi, refleksi diri, dan hubungan personal.--getty images

Dalam konteks pendidikan dan literasi, menulis surat juga melatih kemampuan berbahasa. Seperti mpati, serta keterampilan berpikir reflektif, sesuatu yang kian langka di era komunikasi instan.

Relevansi di Era Digital

Hari Menulis Surat Internasional tidak menolak teknologi, namun mengajak manusia menyeimbangkannya. Di tengah derasnya arus digital, surat hadir sebagai pengingat bahwa komunikasi bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kedalaman hubungan.

Peringatan ini kerap dirayakan dengan cara sederhana. Mulai menulis surat untuk orang tua, sahabat lama, pasangan, atau bahkan untuk diri sendiri. Sebuah tindakan kecil yang mampu menghadirkan kembali rasa terhubung secara emosional.

BACA JUGA:Gedung Parkir Kayutangan Resmi Beroperasi, Pemkot Malang Tata Ulang Kawasan Heritage

Sumber: world letter writing day official initiative