1 tahun disway

Kenalan dengan Udin, Lulusan Pondok Salaf yang Kini Guru Agama Islam Madrasah Sekaligus Seorang Drummer

Kenalan dengan Udin, Lulusan Pondok Salaf yang Kini Guru Agama Islam Madrasah Sekaligus Seorang Drummer

--

KLOJEN, DISWAYMALANG.ID-- Akhmad Fakhruddin Bicuhar, yang akrab disapa Udin, merupakan sosok yang memadukan dunia musik dan pendidikan agama dalam satu harmoni kehidupan. Lahir di Malang, 12 September 1989, Udin dikenal sebagai drummer band NATUA sekaligus guru agama yang konsisten menempatkan pengabdian sebagai prioritas utama.

Ketertarikan Udin pada drum bermula sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Ia mengaku awalnya mencoba ekstrakurikuler menggambar, namun tidak menemukan kecocokan.

“Dulu ikut ekskul gambar, ternyata nggak berbakat. Setelah itu coba ikut drum, kok tertarik dan bisa,” ujarnya saat ditemui Disway Malang pada Kamis, 8 Januari 2026. Sejak saat itu, drum menjadi pilihan yang ia tekuni hingga kelas 6 SD.

Perjalanan bermusiknya sempat terhenti ketika ia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren salaf. Selama mondok, Udin nyaris tidak pernah menyentuh alat musik.

BACA JUGA:X-Men Resmi Masuk Marvel lewat Teaser Terbaru Avengers: Doomsday

“Setelah SD saya mondok, dan di pondok tidak memegang alat musik sama sekali. Main musiknya pas liburan pondok saja,” katanya.

Vakum bermusik itu berlangsung hingga 2008. Setelah lulus dari pondok, ia kemudian kembali menekuni drum secara otodidak dan memperdalam kemampuannya dengan mengikuti les drum selama satu tahun pada 2010. Kemudian ia aktif bermusik dan bergabung sebagai drummer band NATUA.

Meski aktif bermusik, Udin menegaskan bahwa musik baginya tetap berada pada ranah hobi. Pandangan tersebut diperkuat oleh nasihat gurunya.

BACA JUGA:Belajar dari Hasan, Menulis 100 Artikel Lebih meski Sibuk 'Ngampus' dan Berorganisasi, Kini Juga Menulis Buku

“Pertama musik sebagai hobi. Terus saya cerita ke guru saya, disarankan untuk melanjutkan musik sebagai hobi, tapi sekaligus dijadikan alat dakwah,” tuturnya.

Nasihat itu kemudian ia terapkan dalam keseharian, terutama saat berinteraksi dengan anak-anak muda di lingkungannya yang kala itu cukup rentan terhadap narkoba dan pengaruh negatif. “Daripada hal negatif, saya ajak, mending ayo bermusik aja. Lebih seru dan lebih positif,” ucapnya.

Di luar dunia musik, Udin menempatkan pendidikan sebagai poros utama pengabdiannya. Ia mulai mengajar di sebuah madrasah milik ibunya pada 2016, setelah lulus kuliah. Pada awal mengajar, jumlah murid masih sangat terbatas.

BACA JUGA:Dari Korporasi ke Kampus: Haruskah Universitas Dikelola dengan Cara Berpikir Seorang CEO?

"Dulu muridnya cuma lima sampai tujuh orang,” katanya. Seiring berjalannya waktu dan konsistensi, jumlah murid terus bertambah. “Sekarang alhamdulillah sudah 50-an lebih,” lanjutnya.

Sumber: