1 tahun disway

Mengapa Banyak Jalan Menggunakan Nama Tokoh Sejarah? Ini Penjelasannya

Mengapa Banyak Jalan Menggunakan Nama Tokoh Sejarah? Ini Penjelasannya

--

MALANG, DISWAYMALANG.ID — Setiap hari, ribuan orang melintas di jalan-jalan bernama Jenderal Sudirman, Diponegoro, Ahmad Yani, hingga KH Hasyim Asy’ari. Nama-nama itu akrab di telinga, tercetak jelas di papan penunjuk jalan, dan menjadi bagian dari rutinitas warga. Namun, jarang yang benar-benar bertanya: mengapa jalan-jalan itu dinamai tokoh sejarah?

Penamaan jalan bukan sekadar soal administrasi atau penunjuk arah. Di baliknya, ada upaya panjang untuk menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa agar tidak terputus dari masa lalunya.

Mengabadikan Jasa Lewat Ruang Publik

Tokoh sejarah dipilih sebagai nama jalan karena dianggap memiliki jasa besar bagi negara, daerah, atau masyarakat. Dengan menempatkan nama mereka di ruang publik, negara seakan berkata bahwa jasa itu layak dikenang setiap hari, bukan hanya saat peringatan hari besar.

Jalan menjadi medium paling efektif. Ia dilalui siapa saja—pelajar, pekerja, pedagang, hingga wisatawan. Tanpa disadari, masyarakat “bertemu” sejarah setiap membaca papan nama jalan.

BACA JUGA : Air Mineral vs Air Demineral: Mengenal Perbedaan dan Pilihan Terbaik untuk Tubuh

Tidak Dipilih Sembarangan

Proses penamaan jalan dengan nama tokoh sejarah umumnya melalui pertimbangan panjang. Pemerintah daerah biasanya mengacu pada aturan dan rekomendasi, termasuk rekam jejak tokoh, kontribusinya, serta nilai keteladanan yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

Tokoh yang diabadikan pun beragam. Ada pahlawan nasional, ulama, tokoh pendidikan, pejuang kemerdekaan, hingga figur lokal yang berjasa besar bagi daerahnya. Inilah sebabnya di satu kota bisa ditemukan nama jalan nasional berdampingan dengan tokoh lokal.

Jalan sebagai Buku Sejarah Terbuka

Tanpa perlu membuka buku tebal, sebenarnya sejarah sudah tersaji di sekitar kita. Nama-nama jalan adalah “buku terbuka” yang bisa memantik rasa ingin tahu. Siapa sosok di balik nama itu? Apa jasanya? Mengapa ia layak diabadikan?

Sayangnya, makna ini sering luput. Nama jalan lebih sering dihafal sebagai patokan alamat, bukan sebagai pintu masuk untuk mengenal sejarah bangsa.

BACA JUGA:Galanthus, Bunga Snowdrop yang Mekar saat Alam Masih Berselimut Salju

Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini

Pada era digital, ingatan kolektif mudah tergerus arus informasi cepat. Penamaan jalan dengan tokoh sejarah menjadi pengingat bahwa kemajuan hari ini dibangun dari perjuangan panjang di masa lalu.

Setiap seseorang menyebut alamat di Jalan Sudirman atau Diponegoro, sejatinya ia sedang menyebut nama tokoh yang pernah berkorban untuk negeri. Di situlah sejarah tetap hidup—diam, namun setia menemani aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA:Jadikan Kloset Pemantau Hidrasi Harian dengan Sensor Urine Vivo Rp160 Ribuan

Lebih dari Sekadar Nama

Nama jalan bukan sekadar tulisan di papan hijau atau biru. Ia adalah simbol penghormatan, sarana edukasi, dan upaya menjaga identitas bangsa. Tinggal bagaimana masyarakat mau melangkah lebih jauh: tidak hanya melewati jalan tersebut, tetapi juga memahami cerita di balik namanya.

Sumber: undang-undang nomor 24 tahun 2009