1 tahun disway

Tren DIY Skincare Viral di Medsos Picu Kerusakan Kulit, Dokter Beri Peringatan

Tren DIY Skincare Viral di Medsos Picu Kerusakan Kulit, Dokter Beri Peringatan

Menggunakan produk perawatan kulit dan bereksperimen secara berlebihan justru dapat merusak kulit.--Freepik--

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Penggunaan produk perawatan kulit secara berlebihan serta tren DIY skincare sedang marak di media sosial. Namun, itu dinilai menjadi penyebab meningkatnya kasus kerusakan kulit.

Alih-alih mendapatkan kulit sehat dan bercahaya, banyak orang justru mengalami iritasi, kemerahan, hingga sensitivitas berkepanjangan.

Itu diakibatkan karena terlalu sering bereksperimen dengan berbagai produk dan perawatan rumahan. Fenomena itu dikenal sebagai cosmetic abuse. Kini menjadi salah satu keluhan paling sering ditemui dokter kulit.

BACA JUGA:Mengenal 9 Jenis Makeup Remover dan Fungsinya agar Tak Salah Pilih Sesuai Jenis Kulit dan Makeup

Dilansir India Tv, dokter spesialis kulit Dr Ravali Yalamanchili menjelaskan bahwa penggunaan terlalu banyak produk sekaligus dapat memberi tekanan besar pada lapisan pelindung alami kulit atau skin barrier.

Menurutnya, bahan aktif seperti retinoid, asam eksfoliasi, vitamin C, dan exfoliant memang bermanfaat jika digunakan dengan tepat.

Namun tanpa panduan medis, kombinasi dan frekuensi pemakaian yang keliru justru memicu iritasi, pengelupasan, kemerahan, hingga flare-up jerawat.

BACA JUGA:Butuh Cushion Baru? Berikut Ini 9 Rekomendasi Cushion Lokal untuk Semua Jenis Kulit

“Kulit membutuhkan keseimbangan dan waktu untuk memperbaiki diri. Jika terus dipaksa dengan berbagai bahan aktif, pertahanan alaminya akan melemah,” ujarnya.

Selain penggunaan kosmetik berlebih, tren DIY skincare juga menjadi sorotan. Berbagai bahan dapur seperti air lemon, baking soda, pasta gigi, minyak esensial murni, hingga scrub buatan sendiri masih sering digunakan. Meski berulang kali diperingatkan berisiko.


Banyak orang yang sudah rutin memakai skincare, tetapi hasilnya tak mengalami perubahan. Waspada cosmetic abuse.--Unsplash--

Bahan-bahan tersebut tidak dirancang untuk kulit dan dapat mengganggu pH alami. Banyak pasien datang dengan keluhan luka bakar ringan, hiperpigmentasi, serta kulit kering berkepanjangan. Itu terjadi setelah mencoba perawatan yang dianggap “alami” dan aman.

BACA JUGA:Kulit Sedang Berjerawat? Nih, 9 Masker Alami yang Aman Kamu Coba di Rumah

Media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Konten perawatan kulit dengan hasil instan mendorong banyak orang meniru. Padahal belum tentu sesuai dengan jenis kulit atau lingkungan mereka.

Perubahan produk yang terlalu sering membuat kulit tidak sempat beradaptasi. Dalam jangka panjang, kondisi itu memicu tekstur kulit kasar, jerawat berulang, dan sensitivitas yang semakin sulit dikendalikan.

Bahaya lain dari cosmetic abuse adalah kerusakan yang tidak langsung terlihat. Over-eksfoliasi dan penyalahgunaan produk keras bisa tampak aman di awal.

BACA JUGA:9 Nutrisi Penting untuk Membuat Kulit Glowing dan Sehat dari Dalam


Bisa melihat hasil skincare bekerja maksimal tidak bisa dilakukan secara instan.--Unsplash--

Namun kemudian memunculkan penuaan dini, pembuluh darah yang terlihat jelas, hingga gangguan skin barrier kronis. Proses pemulihan pun dapat memakan waktu berbulan-bulan.

Dr Ravali menyarankan pendekatan perawatan yang lebih sederhana. Gunakan secara bertahap pembersih lembut, pelembap, tabir surya, serta beberapa produk pilihan. Itu dinilai sudah cukup bagi kebanyakan orang.

Masalah kulit yang menetap seperti jerawat, flek, atau iritasi sebaiknya dievaluasi secara medis. Bukan ditutup dengan produk yang semakin keras atau perawatan rumahan tanpa dasar ilmiah.

BACA JUGA:Rahasia Kulit Sehat: Ini 9 Makanan Alami Penghasil Kolagen

Perawatan kulit sejatinya bertujuan melindungi, bukan membebani. Mengikuti tren tanpa pemahaman, mencari jalan pintas, dan bereksperimen berlebihan justru berisiko menimbulkan kerusakan jangka panjang. Konsistensi, kesabaran, dan panduan yang tepat tetap menjadi kunci kulit sehat. 

Sumber: harian.disway.id